Kisah bocah Thailand bertarung demi uang

Kisah bocah Thailand bertarung demi uang

Sabtu malam di Kota Sisaket, provinsi Isan, Thailand. Sorak sorai penonton memadati sekeliling ring tinju di kota kecil itu. Namun ada pemandangan berbeda dari biasanya jika orang melihat ke ring tinju itu. Dua petarung tinju ala Thailand atau biasa disebut Muay Thai di atas ring itu masih bocah. Nat Thanarak, 11 tahun, berhadapan dengan Nong Em, 12 tahun.

Muay Thai merupakan salah satu seni beladiri paling keras di dunia dan anak-anak usia mulai tujuh tahun sudah dibayar buat saling gebuk demi menarik perhatian para penjudi, seperti dilansir surat kabar the Daily Mail, Jumat (25/4).

Thailand kini diperkirakan mempunyai sekitar 30 ribu petarung bocah di seantero negeri. Namun terjun ke dunia tarung Muay Thai bagi anak-anak itu sangat berbahaya. Mereka bisa menderita gegar otak atau kerusakan otak lainnya akibat hantaman pukulan lawan.

Meski risikonya tinggi, namun mereka diizinkan oleh para orangtuanya. Para petarung bocah sebetulnya harus mengenakan semacam baju pelindung selama berlaga namun dalam praktiknya mereka jarang menggunakan.

Kemiskinan menjadi alasan utama mereka buat bertarung di atas ring. Meski risikonya bisa fatal namun bayaran bagi mereka cukup menggiurkan. “Saya melakukannya karena bisa dapat uang,” kata Nat Thanarak, bocah dari keluarga miskin. Ibu Thanarak hanya bekerja sebagai pengasuh bayi di Ibu Kota Bangkok.

Pertarungannya dengan Nong Em merupakan salah satu pertandingan penting dan menarik perhatian para petaruh. Sedikitnya uang senilai Rp 20 juta bisa dia dapatkan. Bagi wilayah miskin di Thailand uang sebesar itu lebih besar dari pendapatan orang rata-rata per tahun.

Untuk bisa berlaga Thanarak harus mempunyai bobot 25 kilogram. Dia kini kelebihan tiga kilogram. Supaya bisa segera menurunkan berat badannya ayah Thanarak melatihnya lebih keras.

Dia harus lari delapan kilometer dalam cuaca 30 derajat celcius dengan baju hangat. Dia juga harus push up lebih banyak dan segala latihan fisik yang lebih menyiksa dari biasanya. “Saya akan terus latihan supaya saya makin kuat dan desa saya jadi terkenal,” kata Thanarak.

SUMBER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s