Rumah Adat ‘Uma’, Tak Hancur Diguncang Gempa

https://i2.wp.com/kkcdn-static.kaskus.co.id/images/2013/03/23/979633_20130323035156.jpg

MENTAWAI – Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki rumah adat sebagai wadah untuk mempersatukan anggota suku dan keturunan, termasuk di Sumatera barat. Di Sumatera Barat setidaknya ada dua rumah adat, yakni Suku Minangkabau memiliki Rumah Gadang dan di Mentawai ada rumah Uma.

Meski masih satu provinsi, namun desain Uma tidak sama dengan Rumah Gadang.

Kepulauan Mentawai terdiri dari empat pulau besar. Pertama, Pulau Siberut yang terdiri dari lima kecamatan, yakni Siberut Barat, Siberut Utara, Siberut Tengah, Siberut Selatan, dan Siberut Barat Daya.

Kedua, Pulau Sipora terdiri dari dua kecamatan, yakni Sipora Utara (Tuapeijat) dan Sipora Selatan (Sioban). Ketiga, Pulau Pagai Utara terdiri dua kecamatan, yakni Sikakap dan Pagai Utara (Saumanganyak). Terakhir, Pulau Pagai Selatan dengan nama kecamatan Pagai Selatan (Malakkopa).

Pusat kebudayaan Mentawai berada di Pulau Siberut. Di pulau lain sudah banyak terjadi pergeseran budaya. “Uma merupakan tempat orang Mentawai untuk beraktivitas, termasuk melakukan beberapa jenis upacara atau punen. Bahkan, punen sudah dimulai dari permulaan pendirian Uma. Uma juga berfungsi sebagai tempat bersatunya warga dari suku yang sama,” jelas Tarida Hernawati, antropolog yang bekerja di Yayasan Citra Mandiri Mentawai.

Uma berbentuk panggung dan atapnya ditutup dengan daun sagu (tobat), seluruh bahan bangunannya tesedia di alam Mentawai. Dindingnya terbuat dari papan kayu meranti, namun ada juga yang terbuat dari kulit kayu meranti. Lantainya dari papan serta ada juga sebagian dari belahan bambu. Tak kalah menariknya, dulu Uma dibangun menggunakan pasak kayu dengan teknik ikat, tusuk, sambungan pangku, dan sambungan takik.

Bagi masyarakat Mentawai, Uma memiliki peran penting, mulai dari ritual, upacara, pesta hasil buruan, serta musyawarah. Tak hanya itu, Uma juga sebagai sentra kekeberabatan setiap suku di Siberut. Artinya, setiap suku akan memiliki setidaknya satu Uma.

Menurut Tarida, ada seorang antropolog asal Belanda, Reimar Schefold, yang mendefinisikan apa itu Uma. Bagi Reimar, Uma merupakan tempat kumpulnya masing-masing kelompok, berbentuk rumah panggung besar. “Di situlah diadakan perayaan religius yang berlangsung sampai berpekan-pekan. Di situ pula lah, anggota kelompok tinggal bila tidak ada kesibukan pekerjaan, seperti berladang,” jelas Tarida.

Seorang pastor, Stefano Coronese, yang datang ke Mentawai dan menulis buku Kebudayaan Suku Mentawai, menerangkan, selain tempat untuk menginap, Uma juga dijadikan tempat menyimpan warisan. “Juga menjadi tempat suci untuk pesembahan dan penyimpanan tengkorak binatang buruan,” tambah Tarida mengutip pernyataan Stefano.

Kepala Uma disebut Sikebbukat atau Rimata. Pemimpin dipilih berdasarkan tingkat pengetahuannya mengenai hal-hal penting di suku.

Sebagai rumah adat, Uma memiliki kearifan tradisional. Konstruksinya hampir seluruhnya terbuat dari kayu. Terdapat batang-batang kayu yang menjadi inti atau penopang utama. Uma tidak dibangun menggunakan fondasi seperti bangunan pada umumnya, melainkan ada tonggak yang ditancapkan ke tanah.

Tonggak Uma tidak terbuat dari kayu sembarangan, melainkan kayu sangat kuat yang antirayap. Di kampung-kampung pedalaman Mentawai, bagian bawah Uma dijadikan kandang babi. “Tonggak Uma disebut uggla, merupakan inti kayu yang sudah dibiarkan membusuk. Meski sudah membusuk ada bagian inti yang tidak akan dimakan rayap. Itulah yang kami jadikan uggla,” jelas Marius Saurei, Sikebbukat Suku Saurei, di Desa Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Kalau sudah ditancap, lanjut dia, tonggak tersebut akan bertahan puluhan tahun. Terkadang, usia tonggak lebih tua dari rumah itu sendiri. Meski rumah hancur, namun ugla masih tetap berdiri.

Mendirikan Uma memakan waktu bertahun-tahun. Sebab semua proses selalu diiringi dengan ritual, mulai pendirian sampai peresmian. Ukurannya beragam, ada yang panjangnya 20 sampai 30 meter dan lebar 8 sampai 10 meter.

Dari sisi desain, ada beberapa unsur dalam Uma. Bagian depan, ada laibokat atau ruangan atau anjungan. Di tempat itu biasanya sikerei atau dukun membagi daun obat-obatan dan keperluan acara ritual. Tempat itu juga digunakan sebagai lokasi pemotongan babi dan ayam. Ruangannya terbuka tanpa ada atap.

Bagian berikutnya adalah patitikat. Ruang depan atau teras tersebut tidak dilengkapi dinding. Bagian kiri dan kananya dibuat tempat duduk yang memanjang. Tempat tersebut biasanya dipakai untuk ritual, rapat, pembagian daging babi, ayam, dan hasil buruan lainnya.

Bagian seterusnya adalah itu sausau atau pintu Uma yang memisahkan beranda dengan ruang dalam. Sausau terbuat dari papan atau bisa juga kulit kayu yang dikuatkan dengan rotan. Bila ada acara ritual, sausau akan dibuka. Sausau sejenis pintu berukuran besar yang cara membukanya ke atas, bukan kesamping atau ke depan dan kebelakang seperti pintu rumah pada umumnya.

Di bagian dalam ada tempat tidur dan dapur. Setiap tempat tidur tidak ada sekat, semuanya serba terbuka. Bila penghuni akan tidur, kelambu akan dibentangkan. Di bagian belakang rumah ada abu uma atau dapur.

Selain itu ada juga ruangan yang dinamakan abakmanang. Letaknya di bagian atas atau di depan beranda. Ruangan itu untuk menggantung tengkorak hasil buruan, baik itu tengkorak monyet dan penyu. “Semakin banyak tengkorak hasil buruan, semakin disegani suku lain dalam kepiawaian berburu,” tutur Marius.

Di atas patitikat, dibuat tempat tuddukat. Bentuknya kentongan terbuat dari kayu dengan tiga jenis ukuran, dari kecil hingga besar.

Ada berbagai jenis pukulan yang menandakan akan digelarnya pesta hasil buruan hingga sebagai pertanda kematian. “Bunyi tuddukat ada pesta hasil buruan dengan bunyi ada anggota suku yang meninggal itu beda. Masyarakat semuanya sudah mengerti. Kalau untuk orang meninggal itu bunyinya sangat jauh bisa radius dua sampai tiga kilometer. Apalagi kalau dipukul pada malam hari,” tambahnya.

Uma sudah pasti dihuni oleh Sikebbukat . Pemilihan Sikebbukat bukan berdasarkan usia, tapi dilihat dari sejauh mana pengetahuan dia tentang sisilah keturunan, tanah, adat, dan aturan adat yang berlaku.

“Selain itu tidak boleh iri, pelit, dan sering mengucapkan bahasa kotor. Sebab di Uma banyak yang disakralkan,” terangnya.

Sebelum 1980-an, atau sebelum ada proyek perumahan Kemensos, satu Uma biasanya dihuni empat sampai tujuh kepala keluarga, temasuk anak Sikebbukat laki-laki maupun perempuan.

“Tapi sekarang hanya Sikebbukat saja yang tinggal termasuk anak-anak yang masih lajang. Kalau sudah berkeluarga biasanya mereka akan membuat rumah (lalep) yang dihuni oleh keluarga inti. Anak laki-laki akan membuat rumahnya dekat dengan Uma, sementara kalau perempuan menikah dengan suku lain maka akan tinggal dengan suaminya berserta kerabat suaminya,” ujarnya.

Namun, saat ini Uma di Desa Maileppet sudah berangsur hilang. Apalagi sudah banyak rumah semi permanent. Bahkan Uma juga sudah dibuat versi modern, tidak lagi menggunakan ikat rotan, melainkan pakai paku dan fondasi. Bahkan atapnya tidak lagi memakai tobat atau atap rumbio, tapi sudah diganti dengan seng dan asbes.

Uniknya, warga Mentawai seolah sudah bersahabat dengan gempa sejak lama. Seperti diketahui, Mentawai merupakan daerah rawan gempa dan tsunami. Beberapa kali gempa besar mengguncang daerah tersebut. Bangunan-bangunan semi permanen dan permanen hancur. Namun, rumah Uma tidak rusak.

“Beberapa kali gempa besar terjadi di daerah kami, Uma tetap berdiri. Memang para leluhur kita sudah punya pengalaman soal kegempaan ini. Bahkan, ada cerita rakyat Mentawai yang mengulas soal asal gempa, teteu kabaga,” jelasnya.

SUMBER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s