Sedekahlah di Bulan Ramadan seperti Air yang Mengalir!

https://i0.wp.com/us.images.detik.com/content/2013/07/03/1524/181517_sedekah.jpg

Ilustrasi. (detik.com)

MEMASUKI Ramadan pahala diganjar oleh Allah SWT berkali lipat dibanding bulan lainnya. Apakah itu puasa, salat, infak, sedekah, maka Allah SWT membalasnya lebih istimewa.

Dalam hal sedekah, sejarah membuktikan bahwa Abu Bakar RA merupakan sahabat Rasulullah SAW kaya raya yang hartanya dibelanjakan di jalan Allah SWT. Begitu juga dengan Umar bin Khattab RA yang separuh hartanya juga disedekahkan.

Usman bin Affan RA dengan kekayaannya bisa mewariskan properti sepanjang Aris dan Khaibar senilai triliunan rupiah untuk umat Islam.

Abdurrahman bin Auf RA sebagai orang yang kaya raya juga sama tidak pernah mengenal angka dan waktu saat bersedekah.

Umar bin Abdul Azis, seorang pemimpin kaya raya, tapi sangat sederhana. Ia sering blusukan ke kampung-kampung untuk melihat kondisi rakyatnya dan memastikan apakah ada yang kekurangan makanan.

Namun, bersedekah tidak membuat mereka jatuh miskin.

Inginkah kita seperti mereka? Jawabannya harus iya. Mengapa? Dari Abdullah bin Mas’ud RA. Nabi Muhamad SAW pernah bersabda: “Janganlah ingin seperti orang lain, kecuali seperti dua orang ini. Pertama orang yang diberi Allah kekayaan berlimpah dan ia membelanjakannya secara benar. Kedua, orang yang diberi Allah Al Hikmah dan ia berperilaku sesuai dengannya dan mengajarkannya kepada orang lain.” (HR Bukhari).

Artinya, kita harus iri kepada para sahabat Nabi yang kaya raya tapi hartanya disedekahkan di jalan-Nya. Ada beberapa yang harus kita perhatikan jika ingin kaya dan tambah kaya:

Pertama, mengatur cash flow keuntungan/pendapatan. Hitunglah berapa keuntungan atau pendapatan Anda satu bulan bagi tiga. Sepertiga untuk biaya hidup, sepertiga untuk tambahan modal, dan sepertiga untuk disedekahkan.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Suatu saat ada seseorang sedang berjalan di sebuah padang yang luas tak berair, tiba-tiba dia mendengar suara dari awan (mendung), ‘Siramilah kebun si fulan!’ Maka, awan itu menepi (menuju ke tempat yang ditunjukkan), lalu mengguyurkan airnya di tanah bebatuan hitam. Ternyata ada saluran air dari saluran-saluran itu yang telah penuh dengan air. Maka, ia menelusuri (mengikuti) air itu. Ternyata ada seorang laki-laki yang berada di kebunnya sedang mengarahkan air dengan cangkulnya. Kemudian dia bertanya, ‘Wahai hamba Allah, siapakah nama Anda?’ Dia menjawab, ‘Fulan’. Sebuah nama yang didengar dari awan tadi. Kemudian orang itu balik bertanya, ‘Mengapa Anda menanyakan namaku?’ Dia menjawab, ‘Saya mendengar suara dari awan yang ini adalah airnya, mengatakan ‘Siramilah kebun si fulan’ yaitu nama Anda. Maka, apakah yang telah Anda kerjakan dalam kebun ini?’ Dia menjawab, ‘karena Anda telah mengatakan hal ini, maka akan saya ceritakan bahwa saya memperhitungkan (membagi) apa yang dihasilkan oleh kebun ini, sepertiganya saya sedekahkan, sepertiganya lagi saya makan bersama keluarga, dan sepertiganya lagi saya kembalikan lagi ke kebun (ditanam kembali)’.”

Tapi, kalau belum mampu dari pendapatan/keuntungan Anda keluarkan 10 persen sisanya untuk biaya hidup dan modal kerja. Luar biasa bukan. Insya Allah kita akan menjadi orang yang kaya.

Kedua, sampaikan sedekah dari harta yang paling dicintai. Allah berfirman dalam surat Ali Imran: 92, “Kalian sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum kalian menginfakkan apa yang kalian cintai. Apa saja yang kalian infakkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

Menafsirkan ayat ini, Hasan Basri mengatakan, “Sesungguhnya kalian tidak akan bisa meraih apa yang kalian inginkan kecuali kalau kalian mampu meninggalkan sesuatu yang menyenangkan, dan kalian tidak akan mendapatkan apa yang kalian cita-citakan kecuali dengan bersabar dengan sesuatu yang kalian tidak senangi.”

Menurut Anas bin Malik RA, Abu Tolhah RA adalah orang Anshar yang paling banyak memiliki pohon kurma di Madinah. Harta yang paling ia sukai adalah perkebunan Bairuha yang terletak di depan Masjid Nabawi. Rasulullah SAW sering masuk ke dalamnya untuk meminum air segar.

Ketika ayat Ali Imran di atas tadi diturunkan, Abu Tolhah segera datang menemui Rasulullah SAW seraya berkata: “Sungguh harta yang paling aku cintai adalah perkebunan Bairuha ini dan saya sedekahkan untuk Allah. Saya mengharapkan kebaikannya di sisi Allah, maka silakan wahai Rasulullah engkau letakkan pada tempat yang engkau pandang sesuai”.

Mari kita siapkan harta terbaik, untuk kita sedekahkan di jalan Allah, insya Allah akan digantikan yang lebih baik lagi oleh Allah SWT.

Ketiga, ikhlas karena Allah bukan karena ingin dipuji atau dihormati. Ingat bahwa antara ikhlas dan tidak ikhlas itu menjadi pintu syaitan untuk menggoda kita alias beda tipis tetapi mempunyai pengaruh yang sangat besar.

“Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah, tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS At Taubah: 59)

Segala pengharapan itu karena mencari ridha Allah bukan karena ingin mencari jabatan, ingin dipuji, ingin dianggap orang saleh, dan lain sebagainya. Insya Allah jika kita ikhlas karena Allah, Dia pasti akan ridha dengan apa yang kita lakukan dan mengabulkan apa yang kita minta.

Ditulis oleh Romdlon Hidayat, M.Sc, General Manager Kemitraan Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU).

SUMBER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s