6 Proyek teknologi kebanggaan Habibie

https://i2.wp.com/www.wafertango.com/images_read_share/bj-habibie-tegas-berprinsip-jenius-big-194.jpg

Bacharuddin Jusuf Habibie atau dikenal sebagai BJ Habibie. Pria ini lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Habibie pernah menjabat sebagai Presiden ke-3 Indonesia selama 1,4 tahun dan 2 bulan menjadi Wakil Presiden RI ke-7. Tepat hari ini, dia sudah berumur 77 tahun.

Habibie juga pernah menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) di era Soeharto , dan menjadi Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Selain itu, sebenarnya masih seabrek lagi prestasi pria yang dijuluki sebagai “Bapak Teknologi Indonesia”.

Hari ini tepat peringatan ulang tahun Habibie. Ada baiknya bila kita mengingat, apa saja sih karya teknokrat jebolan Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule, Jerman pada 1955 ini.

Berikut 6 proyek teknologi kebanggaan Habibie:

1. IPTEKnet di BPPT

Waktu itu Habibie menjabat sebagai ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Pada 1986, dia mengikuti sebuah konferensi di Amerika Serikat. Sepulangnya dari sana, dia terinspirasi untuk membuat suatu jaringan komunikasi yang dapat menghubungkan seluruh Indonesia.

Sebagai salah satu perwujudan ambisinya untuk mengembangkan sector ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi tinggi (High-tech) di Indonesia. Keinginan untuk membuat jaringan komunikasi ini kemudian diwujudkan dalam bentuk proposal proyek IPTEKnet, dengan bantuan seorang staff BPPT, Firman Siregar.

Di sisi lain pada 1989 Dewan Riset Nasional (DRN) dan National Research Council/ National Academic of Science (NRC/NAS) of US mengadakan Conference of Information Services and Technology menghasilkan beberapa rekomendasi serta rencana kegiatan tentang jaringan informasi IPTEK.

Maka pada 1991 Rencana DRN tentang jaringan informasi iptek direalisasikan dalam konsep perencanaan teknis dan manajemen IPTEKnet melalui program STAID (Science and Technology for Industrial Development) di BPPT. Proyek ini terealisasi karena program bantuan Bank Dunia.

Pada 2001 IPTEKnet telah diresmikan sebagai Balai Jaringan Informasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Balai IPTEKnet) oleh Ibu Megawati Soekarnoputri yang pada waktu itu menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.

2. Pesawat N-250 di PTDI

Proyek Habibie lainya adalah Pesawat N-250. Itu merupakan pesawat regional komuter turboprop rancangan asli IPTN (Sekarang PT Dirgantara Indonesia,PTDI, Indonesian Aerospace). Menggunakan kode N yang berarti Nusantara menunjukkan bahwa desain, produksi dan perhitungannya dikerjakan di Indonesia.

Pesawat ini diluncurkan pada 10 Agustus 1995. Waktu itu, pesawat ini menjadi primadona IPTN dalam usaha merebut pasar di kelas 50-70 penumpang dengan keunggulan yang dimiliki di kelasnya. Menjadi bintang pameran pada saat Indonesian Air Show 1996 di Cengkareng. Namun akhirnya pesawat ini dihentikan produksinya setelah krisis ekonomi 1997.

Pesawat ini menggunakan mesin turboprop 2439 KW. Pesawat berbaling baling 6 bilah ini mampu terbang dengan kecepatan maksimal 610 km/jam (330 mil/jam) dan kecepatan ekonomis 555 km/jam yang merupakan kecepatan tertinggi di kelas turprop 50 penumpang. Ketinggian operasi 25.000 kaki (7620 meter) dengan daya jelajah 1480 km.

3. Pesawat CN-235 di IPTN (berganti nama menjadi PTDI)

Pesawat lain adalah CN-235. Pesawat ini merupakan jenis pesawat angkut turboprop kelas menengah bermesin dua. Pesawat ini dirancang bersama antara IPTN Indonesia dan CASA Spanyol. Pesawat ini diberi nama sandi Tetuka dan saat ini menjadi pesawat paling sukses pemasarannya di kelasnya.

Habibie ikut memproduksi pesawat ini. Kerja sama antara IPTN (Sekarang PTDI) dan CASA dari Spanyol dimulai sejak tahun 1980. Di Spanyol pesawat ini pertama kali terbang pada 11 November 1983, sedangkan di Indonesia terbang pertama kali pada tanggal 30 Desember 1983.

4. Membangun proyek industri strategis (PINDAD, PAL, IPTN)

Habibie juga berperan dalam pembangunan proyek industri strategis lain. Misalnya ketika dia menjadi direktur PT Pindad dan PAL. Perusahaan milik negara itu menghasilkan produk seperti pesawat terbang, helikopter, kapal, senjata, kemampuan pelatihan dan jasa pemeliharaan (maintenance service).

Selain itu, industri strategis itu juga melayani usaha pemeliharaan mesin-mesin pesawat, amunisi, kapal, tank, panser, senapan kaliber, water canon, kendaraan RPP-M, kendaraan combat dan masih banyak lagi baik untuk keperluan sipil maupun militer.

5. Proyek Habibie di Pindad

Habibie juga memiliki peran besar di industri senjata dan kendaraan tempur milik pemerintah. Sewaktu menjadi direktur PT Pindad, pada 1983 Habibie membangun dan meletakkan konsep pengembangan industri senjata dan produk non senjata, hingga kemampuan Pindad lebih banyak berkiblat pada Eropa.

BJ Habibie pada tahun 1983 memberikan teknologi untuk militer dan komersial kepada Pindad, Sehingga untuk sekarang ini, Pindad mampu memproduksi beberapa barang, dimana hanya Pindad lah yang mampu memproduksi barang seperti itu di Indonesia, seperti Brake Couploing untuk kereta atau generator listrik, motor traksi untuk KRL, dan teknologi air brake untuk kereta api.

6. Penemu teori Habibie

Dulu, pemakai dan produsen pesawat terbang sama-sama tidak tahu persis, sejauh mana bodi pesawat terbang masih andal dioperasikan. Akibatnya memang bisa fatal. Pada awal 1960-an, musibah pesawat terbang masih sering terjadi karena kerusakan konstruksi yang tak terdeteksi. Kelelahan (fatique) pada bodi masih sulit dideteksi dengan keterbatasan perkakas.

Belum ada pemindai dengan sensor laser yang didukung unit pengolah data komputer, untuk mengatasi persoalan rawan ini.Titik rawan kelelahan ini biasanya pada sambungan antara sayap dan badan pesawat terbang atau antara sayap dan dudukan mesin. Elemen inilah yang mengalami guncangan keras dan terus-menerus, baik ketika tubuhnya lepas landas maupun mendarat.

Ketika lepas landas, sambungannya menerima tekanan udara (uplift) yang besar. Ketika menyentuh landasan, bagian ini pula yang menanggung hempasan tubuh pesawat. Kelelahan logam pun terjadi, dan itu awal dari keretakan (krack).Titik rambat, yang kadang mulai dari ukuran 0,005 milimeter itu terus merambat.

Semakin hari kian memanjang dan bercabang-cabang. Kalau tidak terdeteksi, taruhannya mahal, karena sayap bisa sontak patah saat pesawat tinggal landas. Dunia penerbangan tentu amat peduli, apalagi saat itu pula mesin-mesin pesawat mulai berganti dari propeller ke jet. Potensi fatique makin besar.

Habibie-lah yang menemukan bagaimana rambatan titik krack itu bekerja. Perhitungannya sungguh rinci, sampai pada hitungan atom. Oleh dunia penerbangan, teori Habibie ini lantas dinamakan krack progression. Dari sinilah Habibie mendapat julukan sebagai Mr. Krack. Tentunya teori ini membuat pesawat lebih aman. Tidak saja bisa menghindari risiko pesawat jatuh, tetapi juga membuat pemeliharaannya lebih mudah dan murah.

SUMBER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s