Atasi Kemacetan, Estonia Terapkan Transportasi Gratis

Atasi Kemacetan, Estonia Terapkan Transportasi Gratis

TALLINN, ESTONIA — Tallinn, ibu kota Estonia, yang berada di Eropa Timur, memilih cara yang tidak biasa untuk memerangi kemacetan dan polusi yang membelenggu kota itu. Sejak 1 Januari lalu, pemerintah kota Tallinn menerapkan kebijakan bahwa warga kota tidak perlu membayar satu sen pun untuk semua layanan transportasi umum.

Tallinn menggunakan trolleybus, tram, dan bus sebagai moda transportasi penunjang mobilisasi 406 ribu warga yang menghuni kota di pinggir Laut Baltik itu. Sekitar 75 persen warga memilih setuju transportasi gratis dalam referendum yang digelar. Kebijakan itu menjadikan Tallinn sebagai ibu kota pertama di Eropa yang menerapkan transportasi gratis bagi penduduknya.

Data yang dihimpun dalam tiga bulan terakhir menunjukkan bahwa kebijakan ini berefek positif. Jumlah pengguna transportasi umum meningkat 10 persen dan angka kemacetan di pusat kota menurun 15 persen.

Selain itu, kondisi udara juga relatif membaik dan Tallin optimistis dapat ditetapkan menjadi Green Capital of Europe dalam beberapa tahun ke depan. Transportasi gratis juga diharapkan menolong warga berpenghasilan rendah dan pengangguran untuk bermobilitas.

Selain itu, ekonomi domestik diyakini akan terdongkrak karena warga akan semakin terdorong untuk keluar berbelanja. Pemerintah kota terus menggalakkan kampanye agar penduduk perlahan-lahan meninggalkan mobil pribadi mereka.

Kontributior Kompas.com di Singapura, Ericsson, yang kini berada di Estonia, mewawancarai Kerti Sonmez, direktur Divisi International Relations di Universitas Teknologi Tallinn, terkait kebijakan tersebut. Sonmez menilai, transportasi gratis relatif efisien karena memudahkan warga bergerak ke mana-mana tanpa harus memikirkan ongkos. Namun, dia menilai perlu dilakukan peningkatan kebersihan bus dan memperbanyak rute bus karena belum mencakup keseluruhan kawasan Tallinn.

Karita Kostiainen, pelajar di universitas yang sama, juga menilai secara positif. Warga, katanya, menunjukkan antusiasme yang tinggi dan jumlah mobil di daerah yang biasanya macet benar-benar berkurang. Namun, dia juga menekankan perlunya pemerintah memikirkan bagaimana mengatasi semakin padatnya jumlah penumpang yang berdesakan di dalam bus.

Mungkin Jakarta bisa meniru kebijakan tersebut?

SUMBER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s