Hukum Menggambar Dalam Islam

Hukum Menggambar Dalam Islam

Oleh: Abu Ibrohim Muhammad Ali AM.
-hafidzahullah-

‘’Mustahil hidup di jaman modern terlepas dari gambar,semua membutuhkan’’,  ‘’jika gambar tidak disembah maka tidak mengapa,’’ ‘’gambar yang dilarang adalah patung’’, ‘’gambar yang dilarang adalah gambar yang mempunyai bayangan saja’’.–

Itulah sebagian komentar masyarakat berkaitan dengan gambar. Supaya kita tidak salah bersikap dan berucap tentang hukum agama yang harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Alloh kelak, marilah kita lebih mempelajari hukum gambar  dalam agama yang mulia ini, mudah- mudahan sisa hidup kita diberkahi Alloh dan terlepas dari segala perkara yang haram walupun kebanyakan manusia menganggap  lumrah.

DALIL-DALIL TENTANG LARANGAN MENGGAMBAR 

- Dari Abdulloh bin Mas’ud, Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

‘’Manusia yang paling keras adzabnya pada hari kiyamat adalah para tukang gambar.’’ (HR.Bukhori 5494, dan Muslim 3944)

- Dari Ibnu Umar, Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ الَّذِينَ يَصْنَعُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ

‘’Sesungguhnya orang- orang yang membuat gambar- gambar ini akan diadzab pada hari kiyamat, dikatakan kepada mereka,’hidupkan apa yang kalian ciptakan’ ’’.(HR.Bukhori  5495)

- Dari Ibnu Abbas, beliau mendengar Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ صَوَّرَ صُورَةً عُذِّبَ وَكُلِّفَ أَنْ يَنْفُخَ فِيهَا وَلَيْسَ بِنَافِخٍ 

‘’Barangsiapa menggambar suatu gambar, dia akan diadzab dan dibebani untuk meniup ruh di di dalam (gambar itu) sedangkan dia tidak mampu.’’(HR.Bukhori 6520)

- Dari Aisyah, beliau berkata,’’Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit keras, istrinya menyebutkan sebuah gereja yang dinamai ‘’Maria’’, sedangkan Umu Salamah dan Umu Habibah pernah datang ke Negeri Habasyah, lalu ke duanya menceritakan keindahan (gereja itu) dan gambar- gambar di dalamnya, lalu Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepalanya sambil berkata;

أُولَئِكِ إِذَا كَانَ فِيهِمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكِ الصُّوَرَ أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

‘’Mereka itu jika ada seorang tokoh dari mereka meninggal dunia, mereka membangun tempat ibadah di atas kuburnya, lalu mereka membuat gambarnya, mereka adalah sejelek- jelek manusia di sisi Alloh pada hari kiyamat.’’ (HR.Bukhori 416, dan Muslim 822)

- Dari Aisyah, beliau berkata;

دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي الْبَيْتِ قِرَامٌ فِيهِ صُوَرٌ فَتَلَوَّنَ وَجْهُهُ ثُمَّ تَنَاوَلَ السِّتْرَ فَهَتَكَهُ وَقَالَتْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُصَوِّرُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui saya, dan di dalam rumah ada kain selambu yang ada gambarnya, lalu berubah wajah Rosululloh, kemudian beliau mengambil dan mengoyaknya, (lalu Aisyah berkata), Nabi bersabda,’’Sesungguhnya manusia yang paling keras adzabnya pada hari kiyamat adalah orang- orang yang membuat gambar- gambar ini.’’ (HR.Bukhori 5644)

- Dari Abu Tholhah, Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا تَصَاوِيرُ

‘’Para malaikat tidak akan masuk rumah yang ada anjing dan gambar- gambar.’’ (HR.Bukhori 5493, dan Muslim 3929)

- Dari Sa-id bin Hasan berkata, datang seseorag kepada Ibnu Abbas lalu berkata,’’Sesungguhnya aku membuat gambar- gambar  (bernyawa) ini, maka berilah fatwa tentang hal ini,’’ Ibnu Abbas berkata padanya,’’mendekatlah kepadaku,’’ lalu ia mendekat, kemudian (Ibnu Abbas) berkata lagi, ’’mendekatlah kepadaku,’’ lalu ia mendekat sampai beliau meletakkan tangannya diatas kepalanya, sambil berkata,’’Akan aku beritahu engkau apa yang aku dengar langsung dari Rosululloh, aku mendengar Nabi bersabda,;

كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ يَجْعَلُ لَهُ بِكُلِّ صُورَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسًا فَتُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ و قَالَ إِنْ كُنْتَ لَا بُدَّ فَاعِلًا فَاصْنَعْ الشَّجَرَ وَمَا لَا نَفْسَ لَهُ

’’Setiap orang yang menggambar akan (diadzab) di neraka, dia diperintahkan untuk meniup ruh untuk setiap gambar yang ia buat, maka dia diadzab dengan hal itu di neraka,’’ Lalu beliau berkata,’’jika kamu harus melakukannya (menggambar), maka gambarlah pohon dan sesuatu yang tidak mempunyai ruh.’’ (HR.Muslim 3945)

- Dalam lafadh yang lain, Ibnu Abbas mengatakan, Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘’Barangsiapa membuat suatu gambar, maka Alloh akan mengadzabnya sampai dia meniup ruh dalam gambar itu, padahal dia tidak mampu selama- lamanya, lalu orang tersebut menjadi sangat goncang, dan wajhnya pucat,’’ lalu Nabi bersabda,

وَيْحَكَ إِنْ أَبَيْتَ إِلَّا أَنْ تَصْنَعَ فَعَلَيْكَ بِهَذَا الشَّجَرِ كُلِّ شَيْءٍ لَيْسَ فِيهِ رُوحٌ

’’Celaka engkau, jika kamu enggan untuk(meninggalkan) perbuatanmu, maka gambarlah pohon atau apapun yang lain yang tidak ada ruhnya.’’  (HR.Muslim 2073)

PERBEDAAN ANTARA “MENGGAMBAR” dan “MENGGUNAKAN/MEMANFAATKAAN GAMBAR”

Dalam hadits- hadits yang shahih diterangkan menggambar makhluk bernyawa hukumnya haram secara total, adapun menggunakannya jika dengan cara menghinakannya, maka dibolehkan. Imam Nawawi mengatakan,’’Adapun menggunakan gambar hewan jika ditempel di dinding atau baju yang dikenakan, sorban atau semisalnya bukan menjadikan gambar tersebut untuk dihinakan, maka hukumnya tetap haram, tetapi jika digunakan untuk alas yang diinjak, untuk bantal, atau dihinakan dengan cara yang lain maka hukumnya tidak haram.’’[2]

Ibnu Abidin berkata,’’adapun yang membolehkan menggambar makhluk bernyawa dengan dalil bahwa Nabi, para sahabatnya, dan para tabi’in  pernah menggunakan gambar tersebut untuk bantal, maka jawabnya, sesungguhnya menggunakan/ memanfaatkan gambar bernyawa bukan berarti menbolehkan menggambar yang bernyawa, hal ini lantaran adanya nash/ dalil- dalil yang mengharamkan menggambar makhluk bernyawa, dan terlaknatnya mereka, maka (menggambar) berbeda hukumnya dengan memanfaatkan gambar, apalagi ada keterangan bahwa menggambar yang bernyawa adalah menandingi ciptaan Alloh dan ini tidak terdapat pada masalah ‘’memanfaatkan’’ gambar tersebut (jika dihinakan).’’[3]

HUKUM MENGGAMBAR

Setelah kita cermati dalil- dalil di atas, maka secara dhohir menunjukkan keharaman menggambar makhluk bernyawa, dan inilah pendapat mayoritas para ulama diantaranya, madzhab Hanafi, madzhab Syafii dan madzhab Hanbali[4], sebagaimana dalil- dalil yang sangat banyak dan gamblang, dan ada perbedaan pendapat di kalangan mereka tentang hukum menggambar, perinciannya sebagai berikut;

1. Menggambar makhluq bernyawa YANG TIDAK DIHINAKAN

Maksudnya adalah menggambar makhluk bernyawa diatas kain, kertas, dinding, papan dan semisalnya, yang mana gambar tersebut tidak dihinakan seperti diduduki, diinjak atau dipakai sandaran dan semisalnya, ada sedikit perbedaan pendapat dalam masalah ini.

Pendapat pertama:

Mayoritas para ulama (madzhab Hanafi, madzhab Syafii, dan madzhab Hanbali, dan kebanyakan ulama terdahulu/ulama salaf) mengharamkannya.[5]

Dalil mereka:

- Dalil keharaman menggambar makhluq bernyawa yang tidak dihinakan adalah hadits- hadits yang disebutkan diatas yang secara dhohir menunjukkan haram.

Imam Nawawi berkata,’’Madzhab kami dan madzhab lain mengatakan bahwa menggambar hewan adalah perbuatan haram yang sangat besar, termasuk dosa besar lantaran diancam dengan ancaman yang sangat keras dalam hadits, samasaja apakah dihinakan atau tidak dihinakan, semuanya hukumnya haram, karena hal itu termasuk menandingi ciptaan sang pencipta, sama hukumnya apakah di baju, tikar, uang dinar, dirham atau uang kertas, bejana, dinding atau selainnya. Adapun menggambar pohon, perlengkapan onta/ kendaraan, dan gambar lain yang bukan gambar hewan, maka hukumnya tidak haram, inilah hukum gambar.’’[6]

Pendapat ke dua:

Madzhab Maliki menganggap hal itu makruh.

Dalil mereka:

- Dalam sebuah riwayat hadits yang muttafaq ‘alaih ada tambahan yang mengisyaratkan bahwa gambar tersebut tidak haram tetapi makruh walupun tidak dihinakan, seperti riwayat Sahl bin Hanif, beliau mengatakan, Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَا تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ الصُّورَةُ 

قَالَ بُسْرٌ ثُمَّ اشْتَكَى زَيْدٌ فَعُدْنَاهُ فَإِذَا عَلَى بَابِهِ سِتْرٌ فِيهِ صُورَةٌ فَقُلْتُ لِعُبَيْدِاللَّهِ رَبِيبِ مَيْمُونَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَمْ يُخْبِرْنَا زَيْدٌ عَنْ الصُّوَرِ يَوْمَ الْأَوَّلِ فَقَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ أَلَمْ تَسْمَعْهُ حِينَ قَالَ إِلَّا رَقْمًا فِي ثَوْبٍ

‘’Sesungguhnya para Malaikat tidak akan masuk rumah yang ada gambarnya.’’ Busr berkata,’’ketika Zaid sakit, akau menjenguknya, dan ternyata ditrumahnya ada gambarnya, lalu aku berkata kepada saudara tirinya Maimunah (istri Nabi),’’Bukankan Zaid telah mengabari kita tentang (larangan) gambar sejak dahulu?’’ lalu Ubaidillah berkata,’’Apakah kamu tidak mendengar saat beliau berkata ‘’kecuali gambar di kain?’’,  (HR.Bukhori 5501, dan Muslim 3931)

- Mereka mengatakan bahwa menggambar makhluk bernyawa makruh dengan dalil bahwa yang haram adalah membuat patung yang berbentuk makhluk hidup sebagaimana sabdanya,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِي فَلْيَخْلُقُوا ذَرَّةً أَوْ لِيَخْلُقُوا حَبَّةً أَوْ شَعِيرَةً

‘’Tidak ada seorangpun yang lebih dholim daripada seorang yang membuat ciptaan seperti ciptaan-Ku, maka (kalau mereka mampu) ciptakanlah jagung, biji- bijian,atau gandum.’’ (HR.Bukhori 7004, dan Muslim 3947)

- Mereka mengatakan bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Aisyah, beliau melihat gambar bernyawa di kelambu rumahnya, lalu kain bergambar itu dijadikan dua bantal dan dipakai bersandar oleh Rosululloh, mereka mengatakan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai bantal yang bergambar menunjukkan gambar semacam ini tidaklah haram tetapi makruh (lihat HR.Bukhori 5644 diatas)

Pendapat yang kuat, adalah pendapat mayoritas para ulama, karena dalil- dalil mereka lebih kuat, adapun hadits- hadits yang dibawakan oleh madzhab Maliki, maka jawabannya sebagai berikut;

- Hadits pertama tidak jelas untuk menjadi dalil bolehnya gambar makhluk bernyawa yang tidak dihinakan, ada kaidah yang disebutkan para ulama,’’jika terdapat kemungkinan yang tidak pasti maka tidak sah dijadikan sebagai dalil,’’ artinya perkataan إِلَّا رَقْمًا فِي ثَوْبٍ (kecuali gambar yang dikain) maknanya mengandung kemungkinan gambar bernyawa atau yang lain (seperti pohon dan semisalnya).

Imam Nawawi berkata,’’dikompromikan hadits- hadits tersebut, bahwa maksud dari pengecualian ‘’gambar yang dikain’’ adalah gambar- gambar di kain yang tidak bernyawa, seperti pohon, dan semisalnya.’’[7]

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata,’’(pengecualian gambar di kain itu) mengandung kemungkinan dibolehkannya (gambar bernyawa) itu sebelum adanya larangan gambar bernyawa.’’[8]

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata,’’perkataan Nabi إِلَّا رَقْمًا فِي ثَوْبٍ (kecuali gambar yang dikain) termasuk salah satu hadits yang mutasyaabihaat/kurang jelas, sedangkan kaidah yang benar adalah (sesuatu yang mutasyaabihaat/kurang jelas) harus dikembalikan kepada yang sudah jelas (muhkam), [sebagaimana firman-Nya,’’ Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat  untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami". QS. Ali Imron: 7, -ed.]

Maka yang kurang jelas dikembalikan kepada yang sudah jelas supaya tidak ada masalah, sehingga perkataan dalam hadits إِلَّا رَقْمًا فِي ثَوْبٍ (kecuali gambar yang di kain) mengandung kemungkinan bermakna umum bisa gambar hewan atau pohon dan lainnya, maka ketidakjelasan ini harus dibawa kepada yang sudah jelas yang menjelaskan maksudnya yaitu gambar yang dikecualikan (yang dibolehkan) adalah gambar yang bukan hewan atau manusia, sehingga tidak bertentangan antara satu dengan yang lain.’’[9]

- Hadits kedua, jawabannya, hadits tersebut tidak bisa dipahami kecuali dengan melihat sebabnya, riwayat lengkapnya sebagai berikut;

عن أَبُو زُرْعَةَ قَالَ دَخَلْتُ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ دَارًا بِالْمَدِينَةِ فَرَأَى أَعْلَاهَا مُصَوِّرًا يُصَوِّرُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِي فَلْيَخْلُقُوا حَبَّةً وَلْيَخْلُقُوا ذَرَّةً

Dari Abu Zur’ah berkata,’’Aku bersama Abu Hurairah masuk sebuah rumah di Madinah, lalu (Abu Hurairah) melihat gambar- gambar yang di lukis diatas (rumah), lalu beliau berkata,’’Tidak ada yang lebih dholim daripada orang yang berusaha menciptakan sesuatu seperti ciptaanku, (kalau dia mampu) ciptakanlah biji- bijian, dan jagung.’’(HR.Bukhori 5497, dan Muslim 3947)

Kita dapat memahami bahwa yang dilihat oleh Abu Hurairah dan diingkari adalah gambar- gambar yang berada diatas dinding, ini tidak mungkin dikatakan bahwa maksudnya adalah patung makhluk hidup.

- Hadits ke tiga justru menjadi dalil bagi yang mengharamkannya, lihatlah ketika Nabi masuk rumahnya dan melihat gambar tersebut, Aisyah berkata;

فَتَلَوَّنَ وَجْهُهُ ثُمَّ تَنَاوَلَ السِّتْرَ فَهَتَكَهُ 

‘’Lalu wajah Rosululloh berubah (marah), kemudian beliau mengambil dan mengoyaknya.’’ 

Dalam riwayat lain, ketika Rosululloh melihat gambar tersebut lalu marah dan mengingkarinya, Aisyah mengatakan;

أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ وَإِلَى رَسُولِهِ 

‘’Aku bertaubat kepada Alloh dan Rosul-Nya.’’(HR.Bukhori 1963, dan Muslim 3941)

semua perkataan diatas menguatkan bahwa gambar bernyawa walaupun tidak dihinakan hukumnya tetap haram dan harus bertaubat darinya.

2. menggambar makhluk bernyawa tetapi DIHINAKAN 

Maksud dari perkataan menghinakan gambar adalah seperti diletakkan untuk alas kaki, dipakai untuk berbaring, bersandar dan semisalnya, dalam kata lain gambar tersebut tidak digantung atau ditempel[10].

Menggambar makhluk bernyawa telah diharamkan tanpa melihat apakah nanti digunakan untuk dihinakan atau tidak dihinaka., Oleh karena itu, Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari setiap gambar bernyawa yang ia jumpai, dalam sabdanya tatkala Rosululloh mengoyaknya sambil berkata;

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ قَالَتْ عائشة فَجَعَلْنَاهُ وِسَادَةً أَوْ وِسَادَتَيْنِ

‘’Manusia yang paling keras siksanya pada hari qiyamat adalah orang- orang yang menandingi ciptaan Alloh (tukang gambar).’’ Aisyah berkata,’’maka aku jadikan kain bergambar itu menjadibantal atau dua bantal [11].’’(HR.Bukhori 5498)

3. hukum menggambar makhluk bernyawa tetapi DIPOTONG KEPALANYA

Para ulama berbeda pendapat tentang menggambar makhluk bernyawa yang dipotong kepalanya.

Pendapat pertama, boleh menggambar makhluk bernyawa yang dipotong kepalanya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, seperti madzhab Hanafi, madzhab Syafii, madzhab Maliki, madzhab Hanbali[12].

Dalil mereka

- Diantara dalilnya hadits Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau berkata,’’Malaikat Jibril datang kepadaku, lalu dia berkata padaku,’’tadi malam aku datang kepadamu, tidak ada yang menghalangiku masuk kecuali karena ada gambar- gambar di pintu.’’lalu (Jibril) berkata,

فمر برأس التمثال يقطع فيصير كهيأة الشجرة 

’’perintahkan supaya ‘ timtsal’[13] (gambar- gambar) yang ada di rumah itu untuk dipotong kepalanya supaya menjadi seperti bentuk pohon…’’  (HR.Abu Dawud 3504, dan disahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits as-Shahihah 356).

- Dalil lain adalah hadits Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda;

الصورة الرأس ، فإذا قطع الرأس ، فلا صورة 

‘’Gambar itu (intinya) adalah kepalanya, jika dipotong kepalanya maka bukan gambar (yang dilarang, -ed).’[14]

Pendapat ke dua, haram menggambar makhluk bernyawa walaupun dipotong kepalanya, ini adalah pendapat Imam Qurtubi, dan al-Mutawalli[15].

Dalil mereka. Keumuman larangan- larangan gambar makhluk bernyawa dan mereka tidak mengecualikan sama sekali gambar- gambar bernyawa yang dibolehkan.

Pendapat yang kuat; pendapat yang kuat adalah pendapat yang pertama yaItu boleh menggambar gambar bernyawa jika kepalanya dipotong karena dalil- dalilnya lebih gamblang dan kuat.

Catatan:

Berkata Syaikh Al-Abani,’’Adapun gambar- gambar (bernyawa) yang dicetak di lembaran kertas, atau di lukis dikain maka (untuk menghilangkannya) tidak cukup hanya menggaris sebuah garis diatas lehernya supaya terlihat gambarnya terputus (antara badan dan kepala), tetapi harus benar- benar dihilangkan kepalanya, dengan demikian bentuknya tidak kelihatan sehingga menjadi seperti bentuk pohon sebagaimana sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.’’ (Silsilah Ahadits Shahihah 1921).

4. Menggambar kepala saja TANPA BADAN

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.

Pendapat pertama,haramkan menggambar kepala saja walaupun tanpa badan, ini pendapat sebagian pengikut madzhab Syafii, madzhab Hanbali, dengan dalil- dalil, seperti sabdanya;

الصورة الرأس ، فإذا قطع الرأس ، فلا صورة 

‘’Gambar itu (intinya) adalah kepalanya, jika dipotong kepalanya maka bukan gambar.’’ (HR.Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubro 7/270, As-Suyuthi dalam al-Jami’ as-Shoghir, dan disahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah 1921)

Dalam riwayat lain diperjelas dengan sabdanya;

الصورة الرأس فكل شيء ليس له رأس فليس بصورة

‘’Gambar itu adalah kepalanya, maka segala sesuatu yang tidak ada kepalanya bukan termasuk gambar.’’ (HR.Al-Baghowi dalam Syarhus Sunnah 12/134, dari jalan Abu Hurairah).

Pendapat ke dua; boleh menggambar kepala saja dari makhluk bernyawa. alasannya yang dilarang adalah menggambar makhluk bernyawa yang utuh, adapun jika menggabar kepala saja tidak dilarang karena kepala saja tidak akan hidup kecuali dengan badan.[16]

Pendapat yang kuat; adalah pendapat yang pertama karena dalilnya lebih kuat karena gambar itu intinya adalah kepala, sedangkan pendapat yang ke dua tidak menyertakan dalil sama sekali.

5. Gambar KARIKATUR

Maksudnya menggambar yang dilakukan oleh para tukang gambar untuk mengungkapkan sifat/karakter yang ada pada obyek yang digambar, seperti menggambarkan bahwa si fulan sedang marah dan semisalnya.

Menggambar semacam ini hukumnya haram, karena beberapa alasan, diantaranya;

- Gambar tersebut adalah gambar (makhluk, -ed) bernyawa, dan hukum menggambar makhluk bernyawa adalah haram secara muthlak.

- Gambar ini biasanya dibuat lebih buruk dari aslinya seperti badannya dibuat kecil tetapi kepalanya besar, hidung lebih dibesarkan atau mata lebih dilebarkan atau dibuat gambaran seorang yang sangat menakutkan, dan ini termasuk mengolok- olok/menghina orang yang digambar, padahal mengolok- olok/ menghina ciptaan Alloh hukumnya haram.

6. GAMBAR CETAK (foto hasil kamera)

Gambar- gambar yang dihasilkan dari alat- alat modern tidak pernah ada pada zaman dahulu dan mulai dikenalkan oleh seorang kewarganegaraan Inggris pada tahun 1839 M.

Para ulama masa kini berbeda pendapat dalam hal ini.

-Syaikh Muhammad bin Ibrohim, Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Shalih al-Fauzan, Syaikh al-Albani, segenap anggota Lajnah Da’imah, serta yang lainnya berpendapat haram kecuali jika ada kebutuhan yang mendesak[17].

Alasan mereka; karena hasil cetakan kamera/foto dan alat modern tidak bisa lepas dari sebutan gambar, hanya saja cara mendapatkannya berbeda, yang dihukumi adalah hasilnya bukan caranya, sedangkan gambar makhluk bernyawa adalah haram.[18]

- Sedangkan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syaikh Shalih al-Luhaidan dan lainnya membolehkannya [19]

Alasannya; foto hasil kamera tidak sama dengan melukis dengan tangan, orang yang menfoto hanya menekan tombol lalu jadilah sebuah foto, maka ini tidak lain hanya memindahkan gambar dengan kamera dan bukan menggambar, dan orang yang menfoto tidak menandingi ciptaan Alloh karena dia hanya memindahkan gambar saja dengan alat modern.

Pendapat yang kuat; Adalah yang pertama,yaitu yang mengharamkan foto gambar makhluk bernyawa, hal ini dikuatkan oleh beberapa hal, diantaranya;

- Foto yang dihasilkan oleh kamera juga sama dengan gambar dari hasil tangan, hal ini lantaran hikmah larangan menggambar dengan tangan sama dengan larangan foto, yaitu menandingi dan menyerupai ciptaan Alloh, bahkan foto lebih mirip dengan aslinya dari pada gambar hasil tangan, bahkan sebab foto itu lebih mirip dengan aslinya, maka bahaya dan fitnahnya lebih besar dari gambar lukisan tangan[20].

- Foto tidak lain adalah perkembangan dari gambar lukisan tangan sebagaimana berkembangnya segala sesuatu menurut perkembangan zaman, dan kita mengetahui bahwa perbedaan cara tidak membedakan hukumnya jika keduanya sama hasilnya (yaitu gambar), oleh karena itu dahulu mobil dibuat dengan tangan manusia, tetapi sekarang semuanya dengan mesin[21]

- Adapun perkataan bahwa foto kamera tidak lain adalah sama dengan cermin dan tidak ada yang mengatakan gambar cermin hukumnya haram, maka jawabnya adalah, berbeda antara foto dengan cermin karena gambar di cermin tidak diam/tetap, sedangkan gambar foto adalah gambar yang diam/ tetap seperti lukisan.[22]

Catatan penting:

Para ulama yang membolehkan foto mensyaratkan beberapa hal diantaranya;

- tidak boleh berupa foto yang diharamkan seperti foto kaum wanita, foto porno, foto yang mengandung syi’ar orang kafir atau kesyirikan, foto yang mempermainkan agama islam, foto berupa pengagungan/ pengultusan para tokoh, dan semisalnya.[23]

MEMANFAATKAN GAMBAR BERNYAWA

1. Hukum memanfaatkan dengan dihinakan

Memanfaatkan gambar bernyawa jika dihinakan, maka Para ulama berbeda pendapat tentangnya;

- Sebagian ulama berpendapat boleh menggunakan/memanfaatkan gambar bernyawa jika dihinakan, ini adalah pendapat mayoritas ulama, seperti Imam Malik, Imam Abu Hanifah[24], dan Imam Syafii.  Imam Nawawi mengatakan bahwa ini adalah madzhab mayoritas sahabat Nabi dan para tabi’in.[25]

- Sebagian ulama yang lain berpendapat makruh menggunakan/ memanfaatkan gambar bernyawa walaupun dihinakan, mereka berdalil dengan keumuman hadits- hadits seperti;

لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا تَصَاوِيرُ

‘’Para malaikat tidak akan masuk rumah yang ada anjing dan gambar- gambar.’’ (HR.Bukhori 5493, dan Muslim 3929)

Mereka menambahkan, Nabi mengoyak gambar lalu dijadikan sarung bantal, sehingga gambar tersebut hilang dan dijadikan sarung bantal sehingga tidak lagi terdapat gambarnya[26].

- Jalan tengah; hadits- hadits yang menunjukkan bahwa Nabi menggunakan gambar bernyawa dengan cara dihinakan (digunakan sebagai sarung bantal) tidak dapat kita ingkari keabsahannya, dan ini menunjukkan kebolehannya, hanya saja jika seorang muslim mampu meninggalkannya secara total, maka sudah selayaknya dia tinggalkan karena dikhawatirkan para Malaikat tidak masuk rumahnya[27].

2. MEMBELI MAJALAH/KORAN yang bergambar makhluk bernyawa

Majalah dan Koran tidak lepas dari dua macam, pertama majalah atau koran yang menonjolkan pornografi, maka haram hukumnya membelinya, yang kedua, majalah atau Koran yang tidak menonjolkan gambar, kecuali sekedar sebagai penjelas saja, maka menurut Syaikh Ibnu Utsaimin dan Syaikh bin Baz boleh untuk membelinya karena gambar- gambar tersebut bukan menjadi tujuannya. [28]

HIKMAH LARANGAN MENGGAMBAR DALAM ISLAM[29]

Setelah kita mengetahui hadits- hadits larangan gambar, maka kita ketahui ada beberapa hikmah dari larangan tersebut, diantaranya;

1. Menggambar (terutama makhluk bernyawa) adalah menandingi ciptaan Alloh, hal ini ditegaskan dalam hadits yang lebih jelas, Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ 

‘’Manusia yang paling keras adzabnya pada hari kiyamat adalah orang- orang yang menandingi ciptaan Alloh.’’ (HR.Bukhori5954)

2. Menggambar makhluk bernyawa, menjadi jalan menuju pengagungan dan pengkultusan berlebihan terhadap makhluq Alloh yang telah mati, dan akhirnya menjadi kesyirikan, hal ini sebagaimana terjadi pada kaum Nuh yang mengkultuskan para tokoh agama mereka yaitu Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr (QS.Nuh 23).

Imam Bukhori meriwayatkan dari Ibnu Abbas beliau berkata,’’Berhala- berhala yang dimiliki kaum Nabi Nuh dimiliki juga oleh bangsa arab setelah itu, adapun Wad, maka itu adalah berhalanya bani Kalb di daerah Daumatil Jandal, Suwa’ adalah berhalanya suku Hudhail, Yaguts adalah berhalanya bani Murod kemudian menjadi milik bani Ghuthaif di al-Jauf dekat negeri Saba’, Ya’uq adalah berhalanya suku Hamadan, adapun Nasr dia adalah berhalanya bani Himyar dari golongan bani Kila’. Mereka semua (Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr) adalah nama- nama tokoh yang shalih dari kaum Nabi Nuh, takala mereka mati, setan membisikkan kepada kaum mereka supaya mereka memajang gambar- gambar mereka di majlis- majlis mereka, dan supaya mereka memberi nama (gambar- gambar tersebut) dengan nama- nama mereka, lalu mereka benar- benar melaksanakannya dan saat itu belum disembah, sehingga ketika kaum ini binasa dan hal ini terlupakan, kemudian akhirnya disembah.’’ (HR.Bukhori 4539).

3. Manusia membutuhkan rahmat Alloh dan pertolongan-Nya, sedangkan gambar- gambar makhluk bernyawa menghalangi para malaikat untuk masuk ke dalamnya, suatu tempat yang terdapat gambar bernyawa tidak akan dimasuki oleh para malaikat (lihat HR.Bukhori 5493, dan Muslim 3929).

4. Menggambar makhluK bernyawa dan memajangnya adalah termasuk perbuatan menyia- nyiakan harta, sedangkan kaum muslimin diperintahkan untuk menjaga harta mereka, dan tidak membelanjakannya pada perkara- perkara yang tidak bermanfaat, apalagi perkara yang haram.[30]

5. Menggabar makhluk bernyawa dan memajangnya adalah perbuatan orang Yahudi dan Nasrani, maka jika dilakukan oleh kaum muslimin berarti bertasyabbuh/ mengikuti jalan mereka (lihat kembali HR. Bukhori 416, dan Muslim 822)

* rubrik Fiqh di majalah Al Furqon, no.108, Edisi 05 Tahun Kesepuluh Dzulhujjah 1431 H, hal. 33-39

Footnote:

[1] . Kami sarikan pembahasan ini dari sebuah risalah berjudul ‘’Shina’atus Shuroh bil Yad Ma’a Bayani Ahkamit Tashwir al-fotoghrafiy’’ karya Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad at-Thoyyar,  Cet. Dar Ibnu Khuzaimah thn.1427 H. dan kami tambahkan dari referensi penting lainnya.

[2] . Syarh Shahih Muslim 14/69-70.

[3] . Hasyiyah Ibnu Abidin 1/437.

[4] . Lihat Fatawa Lajnah Da’imah fatwa no.2036, dan Shina’atus Shuroh bil Yad Ma’a Bayani Ahkamit Tashwir al-fotoghrafiy, hlm.17.

[5] . Shina’atus Shuroh bil Yad Ma’a Bayani Ahkamit Tashwir al-fotoghrafiy, hlm.18.

[6] . Syarh Shahih Muslim 14-69-70.

[7] . Syarh Shahih Muslim 14-73.

[8] . Lihat Fathul Bari 10/391.

[9] . Majmu’ Fatwa Fadhilatis Syaikh Ibnu Utsaimin 2/284 (dengan sedikit diringkas.)

[10] . Sebagian ulama madzhab Syafii berpendapat bahwa gambar di piring atau bejana lainnya, atau gambar yang ada di mata uang  termasuk gambar yang dihinakan,  akan tetapi pendapat yang benar adalah gambar yang di piring atau bejana lainnya, atau yang ada di mata uang  bukan termasuk gambar yang dihinakan, sebab yang menjadi patokan ‘’gambar itu dihinakan’’ adalah jika gambar tersebut dijadikan alas kaki, diinjak atau dijadikan tempat bersandar dan semisalnya, sebagaimana dalam hadits- hadits yang shahih, bahkan gambar- gambar yand ada di mata uang maksudnya bukan untuk dihinakan tetapi kenyataannya adalah dimuliakan. (lihat Nihayatul Muhtaj 6/396, dan Asna al-Matholib 3/226),

[11] . Maksudnya, setelah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari kain bergambar yang dibentangkan itu, maka Aisyah segera menjadikan kain tersebut menjadi pembungkus bantal/sarung bantal lalu di isi dengan serabut, sebagaimana HR.Muslim 3933.

[12] . Lihat Hasyiyah Ibnu Abidin 1/684, Al-Istidzkar libni Abdil Bar 27/180, dan Shina’atus Shuroh bil Yad Ma’a Bayani Ahkamit Tashwir al-fotoghrafiy hlm.31.

[13] . Timtsal bisa bermakna patung dan bisa bermakna gambar, dan dalam hadits ini para ulama mengartikannya gambar (bernyawa) sebagaimana keterangan hadits- hadits yang lain, dan orang- orang jaman sekarang yang mengatakan bahwa yang haram hanya patung, bukan gambar dengan hadits semacam ini adalah sebuah kesalahan (lihat Lisanul Arab 3/437, al-Mu’jamul Wasith hlm.853, dan Mukhtarus Shihah hlm.614)

[14] . (HR.Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubro 7/270, As-Suyuthi dalam al-Jami’ as-Shoghir, dan disahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah 1921)

[15] . lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an no.1921 (4/554), dan Mughni al-Muhtaj 3/248.

[16] . Lihat Shina’atus Shuroh bil Yad Ma’a Bayani Ahkamit Tashwir al-fotoghrafiy, hlm.33.

[17] . Syaikh Ibnu Baz mengatakan,’’mengambil gambar yang memilki ruh (bernyawa) dengan kamera hukumnya haram, kecuali jika sangat dibutuhkan atau kondisi darurat seperti untuk kepentingan identitas, menfoto pelaku kriminal supaya mereka segera diketahui dan tercegah perbuatan kriminalnya, atau untuk membuat SIM, ini semua jika sangat dibutuhkan dan tidak bisa didapatkan kartu identitas atau SIM kecuali harus dengan foto, maka foto tersebut menjadi boleh karena kondisi darurat.’’ (Fatawa Nur ala ad-Darb 2/205)

[18] . lihat Fatawa Lajnah Da’imah 1/458, perkataan semisal juga dikatakan oleh Syaikh Muhammad Ali as-Shobuni dalam Hukmul Islam fit Tashwir hlm.15-16.

[19] . Shina’atus Shuroh bil Yad Ma’a Bayani Ahkamit Tashwir al-fotoghrafiy, hlm.17.

[20] . lihat Fatawa Lajnah Da’imah, Fatwa no.2296, dan Fatawa Syaikh Muhammad bin Ibrohim 1/458.

[21] . lihat perkataan semisal oleh al-Amin al- Haj Muhammad Ahmad (dinukil secara ringkas dari Shina’atus Shuroh bil Yad Ma’a Bayani Ahkamit Tashwir al-fotoghrafiy, hlm.48.

[22] . perkataan semisal oleh Syaikh Muhammad bin ibrohim dalam Majmu’ Fatawa Samahatus Syaikh Muhammad bin Ibrohim1/187.

[23] .lihat Shina’atus Shuroh bil Yad Ma’a Bayani Ahkamit Tashwir al-fotoghrafiy, hlm.52.

[24] . Demikian pula madzhabnya Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan (Hasyiyah Ibnu Abidin 1/647.)

[25] . Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani juga mengatakan bahwa gambar bernyawa diberi rukhshoh/ keringanan untuk digunakan dalam bentuk yang dihinakan bukan untuk digantung atau ditempel, beliau juga menukil pendapat semisal dari Ibnu Sirin, Ikrimah Sa’id bin Jubair, Urwah. (Lihat Syarhu Muslim 14/70, Hasyiyah Ibnu Abidin 1/647, Fathul Bari 10/388-389, Mughni al-Muhtaj 3/247-248, dan Shina’atus Shuroh bil Yad Ma’a Bayani Ahkamit Tashwir al-fotoghrafiy  hlm.27-29). Pendapat ini juga dikuatkan oleh Syaikh Ibnu Baz dalam Hukmul Islam fit Tashwir.

[26] . Shina’atus Shuroh bil Yad Ma’a Bayani Ahkamit Tashwir al-fotoghrafiy  hlm.29-30.

[27] . Shina’atus Shuroh bil Yad Ma’a Bayani Ahkamit Tashwir al-fotoghrafiy  hlm.30.

[28] . Lihat Fatawa Lajnah Da’imah, fatwa no.3374, dan Syarhul Buyu’ war Riba min Kitab ad-Darori, oleh Syaikh Abdur Rahman al-‘Adni, hlm.21.

[29] . Lihat secara lebih detail, dalam ‘’Ahkam at-Tashwir fil Fiqhil Islami’’ Karya Muhammad bin Ahmad Ali Wasil, Isyraf; Dr. Shalih bin Andillah bin Andi Rahman al-Lahim, Cet.Dar at-Thoyyibah, 1427 H.

[30] . Lihat ‘’Shina’atus Shuroh bil Yad Ma’a Bayani Ahkamit Tashwir al-fotoghrafiy’’ hlm.16

sumber : http://maktabahabiyahya.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s